yuk kita ekspor beras!!!

14 04 2008

dikutip dari okezone.com

JAKARTA - Pemerintah melalui Departemen Perdagangan dalam waktu dekat akan menerbitkan surat keputusan (SK) mengenai ekspor beras. SK ini mengatur, ekspor beras hanya boleh dilakukan oleh Bulog dengan mendapatkan izin dari pemerintah melalui tim stabilisasi pangan.

“Kita sedang menyiapkan pertaturan ekspor, sebentar lagi SKnya keluar,” ujar Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, usia rapat koordinasi menteri-menteri bidang perekonomian di Kantor Departemen Komunikasi dan Informatika, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Senin (11/4/2008).

Rakor dipimpin oleh Menko Perekonomian Boediono. Selain Mendag, rapat diikuti oleh Menteri Pertanian Anton Apriyantono, Menteri Pekerjaaan Umum Djoko Kirmanto, Menteri Perindustrian Fahmi Idris, Menteri Koperasi dan UKM Suryadharma Ali, serta Menteri Komunikasi dan Informatika M Nuh.

Mari menjelaskan, dalam SK tersebut, nantinya kebijakan ekpsor akan dilaksakan jika terjadi surplus beras dalam negeri. Sayangnya, Mari enggan menyebut jenis beras yang diperbolehkan dalam ekpor tersebut. “Nanti, setelah SK keluar,” katanya.

Sementara itu, ketika ditanya mengenai tindakan bagi penyelundupan dan penimbunan beras, Mari menegaskan, masalah tersebut tidak masuk dalam SK. Mengingat kegiatan penimbunan dan penyelundupan termasuk dalam wilayah hukum yang dilarang pemerintah. (Arif Sinaga/Trijaya/hsp)

komentarku:

memang harga beras (dan berbagai makanan pokok lainnya) di pasar global semakin tinggi. dan hal itu adalah sebuah keuntungan bagi negeri produsen makanan pokok. di tivi diberitakan salah satu latar belakang keputusan itu adalah surplus beras yang akan dialami republik ini.

jujur aja ekspor ini adalah sebuah keputusan yang patut dipertanyakan. keputusan ini mungkin akan dirayakan oleh pedagang besar. tetapi bagi petani hal itu tidak mengubah apapun. selama mereka terjebak oleh sistem pertengkulakan. lalu bagi rakyat secara global? kita tidak bisa memungkiri keadaan bahwa padi menjadi makanan pokok paling populer saat ini dan paling banyak dikonsumsi masyarakat indonesia. telah terjadi pergeseran budaya (atau setidaknya sedang terjadi) dari makan singkong, jagung, dan sagu sebagai makanan pokok menjadi beras minded.  dan hasilnya? local wisdom yang diabaikan menyebabkan rakyat hanya memakan makanan penuh gengsi bernama beras.

jika memang peta makanan pokok kita menjadi homogen, tentu kementerian koordinator kesejahteraan rakyat harus mempertimbangkan kenyataan homogennya makanan pokok nasional dewasa ini.

untuk rakyat biasa, tentu anda (dan saya tentu saja) harus bersiap untuk melihat berkurangnya stok beras di pasar. tentu akan banyak ramai pedagang besar ‘mendaftarkan’  berasnya untuk diekspor. bisa jadi. itu sebuah kemungkinan.


Tindakan

Information

Tinggalkan komentar