malam minggu saya jalan2 ke toko buku gunung agung. beberapa buku saya baca previewnya. selain itu saya tentu memanfaatkan kesempatan langka ini (bayangkan, kesempatan saya hanya ada setiap weekend! ck ck ck…) utk membaca majalah yang terbuka alias tidak diplastikin. salah satunya majalah madina yang dibuat oleh yayasan paramadina (kalo tidak salah, yang jelas si berafiliasi dengan paramadina),, saya menganggap majalah tersebut menarik karena di cover ia menampilkan film berjudul Laskar Pelangi yang mana saya menggemarinya.
yang tidak saya lupakan adalah klaim buku tersebut bahwa film tersebut menggambarkan Islam Indonesia. dan secara tidak langsung mencoba menggiring pembaca untuk membandingkannya dengan film bertema Islam lainnya yaitu Ayat-ayat Cinta. hmm.. saya setuju dengan majalah tersebut jika ia menambahkan frase “salah satu” ke dalam kalimatnya serta “di” tersebut sehingga menjadi “salah satu potret Islam di Indonesia”. mengapa saya mengemukakan tambahan frase (atau apapun istilah linguistiknya) itu adalah kenyataan bahwa kita adalah bangsa yang majemuk dan terbuka. potret Islam di Indonesia itu macem2, dari yang kejawen sampai yang sering kali pembela liberalisme dan pluralisme klaim sebagai radikal. ya kesemuanya itu adalah potret Islam di Indonesia (urusan benar atau salah itu urusan lain,, karena saya belum mumpuni untuk mengatakan hal tersebut, saya masih sangat menghormati orang yang lebih berilmu urusan syariat untuk hal itu). dari Islam yang menurut pandangan syariat benar (bisa banyak dan tidak dimonopoli satu golongan,, dan lagi2 para dewan syariat lah yang lebih berkompeten mengatakannya) sampai yang jumhur pakar syariat memfatwakan sebagai bukan bagian dari Islam karena melanggar dasar2 Islam (mengapa saya memasukkannya ke dalam salah satu potret Islam di Indonesia hanyalah karena klaim mereka sebagai Islam,, tetapi kalo Dewan Syariat mengatakan ia (jenis itu) telah keluar dari Islam maka saya mematuhi fatwa dewan syariat). ya itu potret Islam di Indonesia.., jadi ia bersifat multi bukan uni. memasukkan kategori yang serupa dengan yang diluar Indonesia tetapi memasukkan pula yang telah bercampur dengan yang ada di Indonesia (maksud saya tradisi setempat.., yang mana ketika ia telah bercampur dengan tradisi luar maka secara otomatis ia akan pula menjadi tradisi setempat). kira2 begitu yang ada di kepala saya. terima kasih.
bukan cuma islam, agama lain pun mengalami ‘nasib’ yang sama di seluruh dunia. pasti ada ’sempalannya’. mungkin ini sisi buruk perkembangan iptek dan otak yang disalahgunakan
bisa jadi. bisa jadi.
halo bal…………..
asal ojo dadi wahabi aje……….
golongane baasyir….FPI,FBR dll……….
tidak toleran……
menjelakkan nama islam