kemaren malam makan di abuba steak. makanan, yang kata teman kantor saya, enak untuk kategori steak. ditraktir sih, hihihi… saya hanya beberapa kali makan steak. itupun di jogja, di Waroeng Steak dan Obonk Steak. kedua restoran itu satu grup tapi beda segmen. segmen steak di WS adalah untuk mahasiswa berkantung sedang (karena kalo kantung sedang tipis mending cari angkringan beli dua bungkus nasi kucing dan tiga atau empat gorengan hehe..), sementara untuk obonk adalah untuk segmen dompet tebal.
kembali ke abuba steak, saya memesan tenderloine sapi lokal sementara dua orang teman saya memesan T-bone yang beda kasta (satu NZ satu lokal.., maklum ga enak ditraktir pesen yang aneh2..). pesanan saya jadi duluan. saya pikir cukup besar dan banyak jagungnya. hanya sayang kentangnya sedikit. beberapa saat kemudian hati saya hancur. T-bone lokal dan bule berdatangan. dengan daging yang bgitu besar membuat saya menjadi iri. hiks… T_T
tetapi pepatah yang mengatakan: dont judge the book by its cover ternyata bertuah. T-bone bule yang gedhe itu ternyata berdaging keras. dan yang lokal juga agak keras. sementara tenderloin saya begitu empuk dan menggoda. hehe…
pelajaran moral malam itu, jangan nilai rasa dari impor atau lokal, besar atau kecil. karena tenderloin lokal saya membuktikannya
Recent Comments