Pirates of the Somali

20 04 2009

Belakangan ini jika kita melihat kolom berita internasional dari berbagai koran dan situs –situs berita maka kita akan membaca sepak terjang pembajak-pembajak Somalia. Penyanderaan kapal tanker berbendera Amerika, Denmark, dan berbagai negara lainnya oleh pembajak telah menjadi berita wajib di media massa baik cetak atau elektronik. Rasanya popularitas bajak laut somalia telah jauh melebihi popularitas bajak laut karibia yang ditampilkan dalam film Hollywood, Pirates of the Caribbean. Bahkan popularitas kapten Hook dalam cerita Peter Pan sebagai selebritas bajak laut pun tenggelam oleh keberanian bajak laut somalia. Cerita heboh terakhir adalah mengenai ancaman bajak laut Somalia terhadap Amerika Serikat. Bajak laut Somalia berjanji akan membantai semua warga AS yang mereka temui di lautan. Ancaman ini dikemukakan setelah Angkatan Laut AS menembak mati enam bajak laut Somalia dalam pembebasan kapal AS. Berbagai armada AL telah melakukan operasi pengawalan maupun penyelamatan di sepanjang lepas pantai Somalia. China, Belanda, Korea Selatan, Jepang, dan berbagai negara lain telah memutuskan mengirimkan pasukan untuk menjamin kapal-kapal mereka.
Pria muda berusia 17 tahun dengan canggung memegang senjata api dan bersama rekan-rekannya yang lebih tua menyandera kapal tanker maupun kapal kargo. Seorang juru bicara bajak laut selalu selebritas bagi perkembangan penyanderaan. Dengan telepon seluler ataupun radio kapal mereka menghubungi wartawan, petugas pelabuhan, bahkan bernegosiasi dengan pemilik kapal. Teknologi bajak laut Somalia (dan mungkin berbagai bajak laut lain di dunia) sangat ketinggalan. Tapi senjata api menjadi alat pengancam yang efektif. ‘Teknologi’ lainnya adalah keberanian atau bisa dikatakan kenekatan. Keberanian ataupun kenekatan bajak laut Somalia tentu dilatarbelakangi kondisi di daratan Somalia.

Dengan tingkat pemberitaan yang tinggi hal ini dapat menjadi inspirasi bagi banyak orang putus asa di belahan dunia lain, menjadi bajak laut. Cara instan ini mungkin sama fenomenalnya dengan American Idol, Britain Got Talent, ataupun Kontes Dangdut Indonesia. Hanya saja juri mereka bukan sekumpulan profesional atau selebritis. Juri mereka yang menentukan apakah mereka akan mendapatkan grand prize berupa uang tebusan atau tidak adalah ombak di lautan yang tidak menentu, cuaca, peluru, atau bahkan roket.
Penggunaan pendekatan keamanan berjalan efektif di selat malaka. Patroli bersama antara negara-negara yang bertanggungjawab terhadap salah satu jalur laut tersibuk di dunia ini secara efektif mengurangi tingkat kejahatan bajak laut di Selat Malaka. Pendekatan ini sangat mungkin juga berhasil di perairan Somalia. Akan tetapi kasus Selat Malaka dan perairan Somalia memiliki perbedaan. Di selat Malaka pengamanan melibatkan negara yang memang memiliki wilayah itu, Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Sedangkan kasus Somalia negara tersebut tidak akan mau menumpas bajak laut jika negara-negara yang berkepentingan tidak memberikan bantuan peralatan.

Permintaan Somalia ini perlu diperhatikan oleh negara-negara yang berkepentingan terhadap kelancaran arus lalu lintas laut di Somalia akan tetapi hal ini juga harus ditangani dengan berhati-hati karena akan menimbulkan trend di berbagai belahan negara dunia ketiga yang memiliki jalur laut yang ramai namun perekonomian domestiknya tak karuan. Bantuan peralatan begitu saja juga tidak menjamin akan berkurangnya kejahatan bajak laut di perairan Somalia. Perlu pendekatan yang lebih kreatif untuk menyelesaikan kasus Somalia.
Ada beberapa hal yang menarik untuk kita lihat lebih lanjut dalam kasus Somalia, untuk dapat membicarakan pemecahan kasus Somalia. Pertama adalah kemiskinan. Kedua adalah senjata ringan yang mudah ditemui dan dibawa oleh siapa saja. Ketiga adalah kondisi politik dalam negeri Somalia. Keempat adalah budaya. Kelima peranan organisasi multilateral.
Kemiskinan adalah salah satu sumber motivasi kejahatan. Ini adalah pendapat umum yang juga dapat kita terapkan pada kasus maraknya bajak laut Somalia. Dengan tingkat GDP perkapita pada tahun 2008 yang hanya 600 US$ pertahun, atau kurang dari 2 dollar perhari, Somalia menjadi negara dengan kemiskinan sebagai permasalahan yang utama. Jika kita merujuk dari berbagai latar belakang tindakan kriminalitas, maka kita akan mendapati bahwa kondisi perekonomian menjadi pemicu utama bagi tindakan kejahatan. Dan tingkat pengangguran yang mencapai 66% di perkotaan dan 41% di pedesaan menjadi potensi besar untuk beralih ke dunia hitam bajak laut.

Mudahnya masyarakat mendapatkan senjata juga harus diperhatikan. Senjata menjadi sarana yang paling ‘representatif’ untuk melakukan tindak kejahatan. Sejarah peredaran senjata di Afrika dapat kita telusuri dari era perang dingin. Amerika Serikat memegang peranan penting dalam peredaran senjata di Afrika. Pada era Reagan, diketahui AS banyak mengekspor senjata ke Afrika. Dan senjata di era itu hingga kini tetap di-daur ulang dan ditambah dengan senjata baru. Belum lagi munculnya Cina sebagai pemain baru dalam industri senjata, rasanya Bajak Laut Somalia memiliki banyak pilihan.
Peredaran senjata di Somalia juga tidak lepas dari faktor ketiga, kondisi politik. Perang saudara yang telah berlangsung lama membuat negara ini terpecah ke dalam beberapa pemerintahan maupun faksi. Perang saudara semacam ini tentu mendorong kaum miskin Somalia bertahan hidup dengan berbagai cara, salah satu pintunya adalah menjadi bajak laut.

Perlu diperhatikan juga adalah budaya lokal dalam pemecahan masalah bajak laut. Pendekatan yang terlalu koersif menurut hemat kami hanya akan berujung pada konflik baru. Budaya Islam di Somalia perlu diperhatikan oleh semua usaha penyelesaian masalah.

Hal terakhir yang tidak kalah penting adalah peranan organisasi multilateral. Sejauh ini organisasi multilateral seperti PBB memang telah bereaksi dengan mengeluarkan resolusi DK PBB No. 1851 di tahun 2008 mengenai lampu hijau bagi semua anggota untuk melakukan tindakan yang diperlukan guna melawan bajak laut Somalia. Uni Eropa juga mengirimkan misi anti Bajak Laut di perairan Somalia. Dua langkah ini hanya bersifat koersif. Tetap diperlukan namun tidak menyelesaikan akar masalah. Keterlibatan Uni Afrika perlu diintensifkan. Begitu pula dengan Organisasi Konferensi Islam.

Lalu seperti apakah kira-kira penyelesaian kreatif itu jika harus melibatkan kelima hal tersebut? Intervensi kemanusiaan oleh negara-negara menengah, organisasi regional afrika, organisasi multilateral Islam perlu mendapat porsi lebih dalam usaha penyelesaian bajak laut Somalia tanpa mengesampingkan dukungan dari negara maju baik dari segi teknologi maupun pendanaan. Proporsi keterlibatan negara menengah, Uni Afrika dan OKI itu mesti lebih besar dari proporsi keterlibatannya. Permasalahan pendanaan tentu akan menjadi masalah klasik bagi setiap usaha penyelesaian permasalahan internasional, akan tetapi rasanya dunia harus kembali memberdayakan PBB dalam hal pendanaan. PBB melalui berbagai anak organisasinya perlu menggalang dana bagi kesejahteraan Somalia demi kelancaran lalu lintas perdagangan dunia. Rakyat Somalia membutuhkan bukan bantuan dana atau bahkan softloan yang sering mencekik negara dunia ketiga, akan tetapi bantuan peningkatan kapasitas SDM demi mengembangkan komoditas perdagangan dan intensitasnya. Menciptakan pasar lokal yang lebih bergairah dan dengan mengalihkan energi pemuda Somalia dari senjata ke perdagangan (dan industri agraris dan kelautan) rasanya akan menjadi pilihan pas bagi solusi jangka panjang keamanan lalu lintas di teluk aden dan perairan Somalia.


Tindakan

Information

Tinggalkan komentar